Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-2

Maka, selanjutnya, kututurkan bahwa beliau, junjungan kita, adalah Muhammad, (1) putra ‘Abdillāh, (2) putra ‘Abdil Muththalib, yang memiliki nama Syaibah al-Hamd, yang disebut demikian karena pesona pribadinya yang terpuji, (3) putra Hasyim, yang memiliki nama ‘Amrū, (4) putra Abdi Manāf, yang memiliki nama al-Mughīrah, yang kehormatan dinisbatkan kepadanya karena budinya yang luhur, (5) putra Qushay, yang memiliki nama Mujammi’, yang disebut “Qushay” atau “jauh” karena tempat tinggalnya yang jauh di perkampungan Qudhā’ah sampai Allah swt. mengembalikannya ke Tanah Haram yang dimuliakan, lalu ia pun menjadi penjaga teguhnya, (6) putra Kilāb, yang memiliki nama al-Hakīm, (7) putra Murrah, (8) putra Ka’ab, (9) putra Lu’ay, (10) putra Ghālib, (11) putra Fihr, yang memiliki nama Quraisy, yang banyak orang telah cenderung dan menerima bahwa kepadanyalah sebutan “Quraisy” itu berasal-usul, sedangkan “Kinānī” adalah julukan para pendahulunya, (12) putra Mālik, (13) putra an-Nadhr, (14) putra Kinānah, (15) putra Khuzaimah, (16) putra Mudrikah, (17) putra Ilyās, orang yang pertama kali menghadiahkan unta sebagai korban ke al-Masjid al-Haram dan orang dari sulbinyalah pernah terdengar suara Nabi saw. yang berzikir dan bertalbiyyah kepada Allah swt, (18) putra Mudhar, (19) putra Nizār, (20 putra Ma’ad, (21) putra ‘Adnān.

Inilah rantai istimewa. As-Sunnah yang berkilau telah merentengnya. Syariat melarang dan mencegah (penyebutan) silsilah di atasnya yang bersambung ke Ibrāhīm, Khalīlullāh (Kesayangan Allah).

Adapun ‘Adnān, tak ada keraguan, bahwa ia, menurut para ahli silsilah, berasal-usul dan bermoyang ke Isma’īl, sang putra yang disembelih itu.

Maka, agungkanlah kalung yang butiran permatanya berkilauan ini. Betapa tidak? Sang junjungan termulia itu, Muhammad saw., berada di tengahnya.

———-

(Inilah) silsilah, yang kan kau nilai luhur karena eloknya. Rasi Gemini pun mengalungkan bintang-bintangnya.

Oh, indahnya kalung mulia dan megah itu! Engkau di dalamnya, wahai anak yatim yang suci dari dosa.

———-

Muliakanlah, karenanya, silsilah yang Allah Yang Maha Tinggi telah menyucikannya dari cemaran kejahilan itu. Demikianlah, az-Zain al-‘Irāqī menuturkan ini dengan manis kepada penuturnya, lalu menuturkannya kembali.

———-

Tuhan melindungi kemuliaan Muhammad. Leluhur-leluhurnya terjaga demi (kesucian) namanya.

Mereka tinggalkan kenistaan (jahilī) itu sehingga tidak sepercik pun memapar, dari sejak Adam sampai ayah, pula ibunya.

———-

Memancarlah, dengan eloknya, pendar cahaya kenabian di atas guratan dahi-dahi mereka. Dan, memancar pulalah kecemerlangan purnama di kening sang kakek, Abdul Muththalib, dan putranya, Abdullah.

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag