Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-5

Tampaklah Nabi saw. meletakkan kedua tangan di atas tanah dan mengangkat kepala ke langit tinggi sebagai penunjuk tentang ketinggian dan keluhuran beliau, pula isyarat tentang kedudukan beliau yang tinggi di antara segenap makhluk dan bahwa beliau adalah “al-habīb” (yang sangat dikasihi dan sangat mengasihi) yang berperangai dan berwatak elok.

Sang ibu memanggil ‘Abdul Muththalib yang sedang berthawaf di Ka’bah. ‘Abdul Muththalib pun menyambut segera panggilan itu dan melihat sang bayi.

Sampailah ‘Abdul Muththalib ke puncak kebahagiaan. Ia memangku, dengan ceria, sang bayi ke dalam Ka’bah, memanjatkan do’a tulus, dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi atas apa yang telah dianugerahkan dan diberikan kepadanya.

Nabi saw., dengan tangan kekuasaan Allah, lahir dalam keadaan bersih, terkhitan, dan terpotong tali pusarnya, serta harum, berlumur (wewangian), dan tercelak pada kedua matanya dengan celak inayah.

Dituturkan (dalam riwayat lain), bahwa sang kakeklah yang telah mengkhitan Nabi swt. setelah genap tujuh malam. Ia pun menggelar walimah, memberi makan (kaum fakir dan miskin), lalu menamai bayi itu dengan “Muhammad” (yang terpuji berkali-kali) dan memulyakan kedudukannya.

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag