Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-9

Setelah Muhammad saw. mencapai usia empat tahun, sang ibu membawa beliau ke al-Madīnah an-Nabawiyyah. Kemudian, saat sang ibu kembali pulang (ke Mekkah), kematian menjemputnya di al-Abwā, atau di Syi’b al-Hajūn. 

Maka, Muhammad saw. dipangku oleh pengasuhnya, Ummu Aymān, budak wanita dari Habasyah, yang kelak dinikahkan oleh beliau dengan Zaid Ibn Hāritsah, pembantu beliau. 

Umum Aymān, kemudian, menyerahkan Muhammad saw. sang kakek, ‘Abdul Muththalib, yang segera merangkul, menunjukkan kasih, dan mengangkat beliau ke atas seraya berkata: “Anakku ini, sungguh, memiliki kedudukan yang sangat agung. Maka, mulialah siapapun yang menghormati dan mengurusnya!”

Muhammad saw., sejak masa kanak-kanaknya, tak sekalipun mengeluhkan lapar dan haus. Beliau, seringkali, tidak makan kecuali dengan meneguk air Zamzam. Air itu cukup mengenyangkan dan memuaskan beliau.

Muhammad saw. tinggal di kediaman Abdul Muththalib hingga ajal menjemput sang kakek. Maka, paman beliau, Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau, Abdullah, pun mengurusnya. Hiduplah beliau dalam asuhan pamannya yang selalu berpendirian kuat, berkeinginan luhur, dan melindungi itu.

Setelah Muhammad saw. mencapai usia dua belas tahun, sang paman mengajak beliau turut serta dalam perjalanan ke Negeri Syām. Bahīra, seorang rahib, mengenali (kenabian beliau), sesuai dengan ciri-ciri kenabian yang diterima dan diketahuinya. 

Bahīra pun berkomentar: “Sungguh, ia akan menjadi pemimpin alam semesta, Rasulullah, dan Nabi-Nya. Pohon dan batu bersujud kepadanya. Keduanya tidak akan bersujud kecuali kepada Nabi yang dilindungi-Nya. Sungguh, kita telah mengetahui ciri-cirinya dalam kitab-kitab samawi terdahulu. Di kedua bahunya, ada cap kenabian yang diselimuti cahaya di atasnya.”

Bahīra meminta sang paman membawa kembali Muhammad saw. pulang Mekkah, khawatir suatu hal buruk akan dilakukan kepada beliau oleh pendeta-pendeta Yahudi. Maka, sebelum melewati Bushrā, sebuah kota di Syām al-Muqaddas, Abu Thālib pun membawa kembali beliau pulang.

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag