Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-10

Setelah mencapai usia dua puluh lima tahun, Muhammad saw. kembali melakukan perjalanan dagang ke Bushrā untuk Khadijah, didampingi oleh Maisarah, seorang budak laki-laki yang selalu membantu dan menolong beliau. Beliau, kemudian, berhenti di bawah sebatang pohon, dekat dengan sebuah biara milik Nasthurā, seorang rahib nasrani.

Saat dedaunan lebat pohon itu runduk memayungi, sang rahib pun mengerti, lalu berkomentar: “Tidak ada seorang pun yang pernah beristirahat di bawah pohon ini kecuali nabi yang suci dan rasul yang dikhususkan-Nya dengan keistimewaan-keistimewaan dan anugerah-Nya”.

Kepada Maisarah, sang rahib bertanya: “Adakah noktah merah di kedua matanya yang tidak mudah dilihat karena samar?” Maisarah menjawab: “Ya.”

Benar! Pada diri Muhammad saw., ada sesuatu yang diduga dimiliki dan dihendaki oleh sang Rahib. Nasthūrā berpesan kepada Maisarah: “Jangan pernah engkau tinggalkan dia. Tetaplah di sampingnya dengan ketulusan yang kuat dan kelurusan hati yang baik. Sungguh, dia adalah seorang yang dimuliakan Allah Yang Maha Tinggi dengan dan dipilih untuk kenabian.”

Muhammad saw. kembali ke Mekkah. Khadijah menatap dan menyambut beliau di satu ketinggian, didampingi oleh sejumlah wanita lain. Dua malaikat berada di atas kepala beliau yang mulia, melindungi beliau dari sengatan matahari.

Maisarah menyampaikan kepada Khadijah bahwa ia pun melihat hal sama di sepanjang perjalanan, pula apa yang dikatakan oleh sang rahib dan pesan yang ditinggalkan untuknya. Allah memberikan keuntungan berganda atas perdagangan beliau.

Apa yang telah dilihat dan didengar Khadijah menunjukkan kepadanya bahwa, sungguh, Muhammad adalah utusan Allah Yang Maha Tinggi ke seluruh alam. Beliau diistimewakan Allah Yang Maha Tinggi dengan kedekatan dengan-Nya dan telah dipilih oleb-Nya.

Maka, Khadijah meminang Muhammad untuk dirinya sendiri agar segera menghirup aroma wangi keimanan darinya. Beliau segera menyampaikan pinangan wanita salihah dan penuh takwa itu kepada paman-pamannya. Mereka setuju, mengingat bahwa keutamaan, agama, kecantikan, harta, dan silsilah keturunan Khadijah adalah sesuatu yang banyak diinginkan oleh orang-orang.

Berkhutbahlah Abu Thālib, memuji Muhammad saw., setelah ia melantunkan puji-puji luhur untuk Allah. Ia berkata: “Demi Allah, ia (Muhammad) memiliki berita agung. Ia akan dipuji dengan suka cita karenanya.”

Khadijah pun dinikahkan dengan Muhammad saw. oleh ayahnya, atau pamannya, atau saudaranya, bukti wujud kebahagiaan azali yang telah ditetapkan. Khadijah pula yang melahirkan seluruh putra-putri Muhammad saw. kecuali putra yang beliau namai al-Khalīl.

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag