Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-11

Saat Muhammad saw. mencapai usia tiga puluh lima tahun, Quraisy membangun kembali Ka’bah yang rusak karena banjir besar. Mereka saling berselisih dalam urusan pengangkatan kembali Hajar Aswad. Setiap orang ingin dan berharap mengangkatnya. Percekcokan dan adu mulut semakin menghebat. Mereka saling mengikat janji untuk berperang dan menguatlah semangat kesukuan. 

Kemudian, mereka saling menyeru kepada keadilan dan menyerahkan perkara ini kepada seseorang yang mampu memberikan pendapat yang baik dan jernih. Mereka tunduk dengan keputusan orang yang pertama memasuki Ka’bah dari pintu as-Sadanàt As-Syaibiyyah.

Nabi saw. adalah orang yang pertama memasuki Ka’bah dari pintu itu. Orang-orang pun berkata: “Inilah dia yang sangat dipercaya. Setiap orang dari kita akan menerima dan rela kepadanya”. Mereka pun menyampaikan kepada beliau bahwa mereka rela jika beliau menjadi pemutus dan penetap untuk perkara yang pelik ini. 

Maka, Muhammad saw. meletakkan batu itu di atas selembar kain, lalu memerintahkan semua suku untuk menggotong batu itu, bersama-sama, ke tempatnya. Mereka pun menggotongnya ke lokasi di salah satu sudut Ka’bah. Lalu, dengan kedua tangan beliau yang mulia, beliau meletakkan batu itu ke tempatnya, sebagaimana saat ini, dan membangunnya.

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag