Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

KALUNG PERMATA PROSA BARZANJĪ BAGIAN KE-13

Yang pertama beriman kepada Muhammad saw. dari kalangan orang dewasa adalah Abū Bakar, sang penghuni gua (Tsūr), dan yang sangat dipercaya; dari kalangan anak-anak adalah ‘Alī; dari kalangan wanita adalah Khadījah, yang telah diteguhkan dan dijaga hatinya oleh Allah; dari kalangan maulā (mantan budak) adalah Zaid bin Hāritsah; dan dari kalangan budak adalah Bilāl, seorang yang pernah disiksa oleh Umayyah karena keimanannya kepada Allah. Abū Bakar mengambil alih urusan Bilāl dari sang majikan, lalu memerdekakannya. Selanjutnya, masuklah Utsmān, Sa’ad, Sa’īd, Thalhah, Ibn ‘Auf, dan Shafiyyah, putra bibinya, ke dalam Islam.

Muhammad saw. dan sahabat-sahabatnya senantiasa beribadah secara diam-diam hingga diturunkan (wahyu berikut ini) kepada beliau: “Maka sampaikanlah olehmu secara terbuka apa yang diperintahkan.” Maka, bergegaslah beliau menyeru manusia agar kembali kepada Allah. 

Muhammad saw. tidak diasingkan oleh kaumnya hingga beliau menyerang tuhan-tuhan mereka dan memerintahkan mereka agar menolak apapun selain pengesaan (Allah). Maka, mereka pun menunjukkan permusuhan keras dan menyakiti beliau. 

Cobaan atas kaum muslimin semakin menjadi hingga berhijrahlah mereka, pada tahun kelima (dari kenabian), ke pangkuan Najāsyī. Sementara Abū Thālib, sang paman, tetap melindungi Muhammad saw. sehingga setiap orang dari kaum beliau merasa takut, lalu menjauhi beliau.

Muhammad saw. diwajibkan mendirikan shalat di sebagian waktu malam. Kemudian, kewajiban itu terhapus oleh firman Allah Yang Maha Tinggi berikut: “Maka, bacalah apa yang kamu rasakan mudah dari al-Qur’an, dan dirikanlah shalat.” 

Muhammad saw., diwajibkan shalat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di malam hari. Kemudian, kewajiban itu pun terhapus oleh pewajiban shalat yang lima waktu pada suatu malam ketika beliau diperjalankan di malam hari (isrā’).

Di pertengahan bulan Syawwāl, tahun kesepuluh kenabian, wafatlah Abū Thālib. Dengan kematiannya, terasa besarlah persandaran Muhammad saw.. Tiga hari kemudian, Khadījah turut pula wafat. Cobaan atas kaum muslimin pun menghebat. Orang-orang Quraisy memperlakukan beliau dengan seburuk-buruknya.

Begitupun penduduk Thaif, yang sering disebut suku Tsaqif, tidak juga mengindahkan ajakan Muhammad saw.. Mereka mengerahkan para budak dan anak-anak agar menghina beliau dengan caci maki dan melempari beliau dengan batu hingga bersimbahlah darah di kedua alas kaki beliau.

Dengan sangat berduka, kembalilah Muhammad saw. ke Mekkah. Malaikat meminta beliau (berdoa) agar gunung membinasakan penduduk Mekkah, para penjunjung fanatisme kesukuan itu. Beliau menjawab: “Sungguh, aku (malah) berharap agar Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang-orang yang menetapi-Nya.”

———-

Harumkanlah, wahai Allah, kubur beliau yang mulia itu dengan semerbak aroma wangi shalawat dan salam.


PESANTREN DAARUL ULUUM
BOGOR

Menyelami naskah sastrawi ‘Iqdul Jawhar (Kalung Permata), karya as-Syaikh Ja’far al-Barzanjī Bin Hasan Bin ‘Abdil Karīm.

IQBAL HARAFA, S.Ag