Daarul Uluum, Istana Pengetahuan Dan Kebijaksanaan

Bertekad menjalankan misinya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendidikan, pengajaran, dan penyiaran Islam, baik khusus maupun umum, dalam bentuk seluas-luasnya.

Isrā’ dan Mi’rāj 24

KEMBALI KE DUNIA

Nabi saw. tak melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berpesan, “Hendaklah engkau berbekam.”

Dalam riwayat lain, (para malaikat yang dilewati Nabi saw. selalu berpesan), “Perintahkanlah umatmu berbekam.”

Nabi saw. kembali turun. Kepada Jibrīl, beliau bertanya, “Aku tidak bertemu dengan seorangpun penghuni langit selain mereka menyambutku dan tersenyum kepadaku kecuali seorang: kuucapkan salam kepadanya, ia membalas salamku, lalu menyambutku dan mendo’akanku, namun tak sekalipun ia tersenyum kepadaku.”

Jibrīl menjawab, “Dialah Malik, malaikat penjaga neraka. Malik tak pernah tersenyum sejak ia diciptakan. Andai ia (bisa) tersenyum kepada seseorang, dia pasti tersenyum kepadamu.”

Setelah Nabi saw. turun ke langit dunia, beliau melihat ke bagian bawahnya. Di sana, ada gumpalan-gumpalan awan dan (terdengarlah keriuhan) suara-suara.

Nabi saw. bertanya, “Apakah ini, wahai Jibrīl?” Jibrīl menjawab, “Ini adalah syetan-syetan yang sedang menggelayuti mata-mata keturunan Ādam sehingga mereka tidak memikirkan kerajaan langit dan bumi. Andai syetan-syetan itu tidak ada, niscaya mereka (yaitu keturunan Ādam) melihat keajaiban-keajaiban (di kerajaan langit dan bumi itu).”

Kemudian, (setelah tiba kembali di Baitil Maqdis), Nabi saw. naik (ke atas Burāq), lalu berangkat.

Nabi saw., kemudian, melewati satu kafilah Quraisy (yang sedang melintas dari Syam ke Makkah) di anu dan anu. Di kafilah itu, ada unta yang membawa dua karung muatan: karung berwarna hitam dan karung berwarna putih. Saat (kehadiran) Nabi saw. mengejutkan mereka, unta itu lari terbirit seraya memekik. Kafilah itu bercerai-berai.

Nabi saw., kemudian, melewati satu kafilah lain (di ar-Rauhā’). Mereka kehilangan unta yang dikumpulkan oleh Banu Fulān. Beliau mengucapkan salam kepada mereka. Sekelompok orang dari mereka berseru, “Ini suara Muhammad!.”

(Bersambung ke Bagian 25)


QISHSHAH AL-MI’RĀJ

Ditulis oleh al-‘Allāmah Najmuddīn al-Ghaythī, diperinci oleh Abī al-Barakāt as-Sayyid Ahmad ad-Dardīr, dan diterjemahkan oleh al-Ustādz Iqbal Harafa.

RAJABAN
DI PESANTREN DAARUL ULUUM BOGOR
BOGOR

* Sumber Tulisan: http://iqbalharafa.daarululuum.co.id/2018/05/20/dardir-24/