Biografi Pendiri

KH. Elon Syujai dilahirkan di Bantarkemang, Bogor, Jawa Barat, pada tahun 1912. Ia adalah putra dari pasangan suami istri Mudai dan Andewi. Sejak kanak-kanaknya, Elon Syujai sudah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu-ilmu agama, sesuatu yang kemudian mendorong dirinya menapak jalan keulamaan hingga ke akhir hayatnya.

Pendidikan keagamaan Elon Syujai diterima pertama kali dari Ajengan Baihaqi, seorang ulama di Leuwinanggung, Bogor. Dari Leuwinanggung, beliau melanjutkan belajar ke Pondok Pesantren Kadukaweng, Banten. Di pesantren yang disebutkan terakhir.ini, beliau belajar selama, kurang lebih, 4 tahun.

Setelah pulang sesaat ke kampung halaman, Elon Syujai melanjutkan lagi belajarnya ke Cipanas hingga beliau dewasa. Di tempat ini, selain mengikuti pendidikan agama, beliau mengikuti juga pendidikan umum di Sekolah Rakyat. Oleh karena itu, selain memiliki pengetahuan keagamaan, khususnya khazanah kitab-kitab salafi, Elon Syujai pun memiliki kemampuan membaca dan menulis latin.

Setelah menamatkan pendidikan formal di Sekolah Rakyat, Elon Syujai melanjutkan lagi belajarnya ke Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yang dipimpin oleh Ajengan Sanusi, selama beberapa waktu. Tak cukup sampai di situ, beliau berangkat lagi, beberapa tahun kemudian, untuk berguru ke Ajengan Sathibi di Gentur, Sukabumi. Melihat potensi besar yang dimiliki serta semangat belajar beliau yang tinggi, Ajengan Sathibi mendorong beliau untuk memperdalam lagi ilmunya ke beberapa pesantren di Garut dan Tasikmalaya.

Di Garut dan Tasikmalaya, Elon Syujai bertemu dan bersahabat dengan sejumlah orang yang, kelak, menjadi ulama-ulama terkenal di Jawa Barat, seperti KH Khoir Afandi (Pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya), KH Gunung Puyuh (Sukabumi), KH Noer Ali (Pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Soleh Iskandar (Bogor), dan lain sebagainya. Persahabatan beliau dengan tokoh-tokoh tersebut terus terjalin hingga beliau kembali ke Bogor dan merintis sebuah pesantren.

KH. Elon Syujai adalah seorang ulama yang selalu hidup sederhana. Seluruh lokal bangunan pesantrennya dijadikan sebagai tempat tinggal dan belajar para santri. Beliau hanya menyisakan sepetak kamar seluas 4×3 meter persegi sebagai tempat tinggalnya. Siapapun bisa datang menemui beliau, kapanpun dan jam berapapun juga, tanpa harus membuat janji lebih dahulu.

KH. Elon Syuja’i berpulang ke sisi Allah pada tanggal 5 April 1990. Ribuan orang datang berduyung-duyung untuk berta’ziyyah, menyalatkan, dan menghantarkan jenazah beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya. 

Jenazah KH. Elon Syujai diusung dan dioper dari tangan ke tangan oleh begitu banyak warga, mulai dari mesjid, tempat jenazah beliau disalatkan, hingga ke pemakaman. Semua penta’ziyyah berdiri dan berbaris rapih secara berhadap-hadapan sepanjang 1 kilometer menanti operan jenazah.